#15HariCeritaEnergi: Sebuah perjalanan untuk energi di masa depan, dimulai dari sekarang, dimulai dari kita.

Dalam dua minggu silam kita sudah membahas berbagai macam topik yang berhubungan dengan sektor energi. Kita berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai peran energi bagi suatu bangsa – di Indonesia, selayaknya di negara lain, penyediaan energi merupakan kewajiban pemerintah yang diamanatkan dalam konstitusi dan Undang-Undang. Energi merupakan bagian vital dari kehidupan, tanpanya, sektor lainnya tanpa terkecuali tidak dapat bergerak. Ekonomi memiliki hubungan yang sangat erat dengan energi, dimana pertumbuhan ekonomi tidak mungkin tidak disertai dengan pertumbuhan kebutuhan energi, dan sebaliknya, pertumbuhan dan ketahanan energi yang kuat akan berujung kepada pertumbuhan dan ketahanan ekonomi yang kuat pula.

Energi juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan manusia – untuk mendapatkan standar hidup yang lebih layak (misalnya, akses listrik, akses air bersih, dan kesehatan) diperlukan pula energi yang mumpuni dan andal. Sudah ada bukti dari studi yang dilakukan Pasternak (2000) yang melihat hubungan langsung antara indeks pembangunan manusia (HDI) dan pemakaian listrik, dimana dibutuhkan konsumsi listrik per kapita minimal 4.000 kWh untuk mencapai indeks 0,9 atau nilai HDI yang dimiliki oleh negara-negara maju.

Mengingat tidak dapat diabaikannya pemenuhan kebutuhan energi tersebut, bukan suatu pertanyaan lagi apakah pemerintah harus memikirkan cara-cara agar dapat menyediakan energi yang andal dan sesuai dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan. Namun, kita tidak dapat mengabaikan pula kenyataan bahwa pada saat ini terdapat permasalahan yang timbul karena emisi gas rumah kaca yang terperangkap dalam atmosfir, dan mengancam keberlangsungan dan kelayakan hidup di masa depan. Karena itulah diperlukan suatu strategi pemenuhan energi lain yang tetap dapat memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, tapi merupakan sumber energi yang berkelanjutan sehingga tidak memperparah dampak negatif perubahan iklim.

Menjawab tantangan tersebut, pengembangan energi terbarukan menjadi jawabannya, didukung pula oleh inisiatif pengurangan emisi dan penghematan energi.

Energi terbarukan yang berarti energi yang dihasilkan dari proses alam yang berkelanjutan dan berasal dari sumber daya yang dapat diperbaharui. Contoh dari energi-energi ini adalah tenaga surya, tenaga angin, dan biomassa.

Walau terdengar seperti energi baru, penggunaan sumber energi ini untuk menghasilkan energi bukanlah hal yang baru! Tengok saja tenaga air, pembangkitan listrik menggunakan aliran air sudah digunakan di Indonesia hampir seratus tahun lamanya! Begitu pun dengan pembangkitan listrik menggunakan energi biomassa – sebuah sumber energi yang dihasilkan dari material biologis atau terjadi dari proses biologis – seperti misalnya, penggunaan kayu bakar atau lemak hewani dalam penggunaan tradisional.

Pengembangan energi terbarukan yang jamak digunakan dan paling cepat pengembangannya merupakan pengembangan energi surya dan angin, dimana karena inovasi terus menerus dan permintaan yang terus meningkat, biaya produksi pengembangan energi tersebut terus turun dan meningkatkan lagi penggunaan sumber energi tersebut dalam jaringan listrik dan bauran energi dunia.

Selain sumber energi terbarukan yang lebih sering didengar, banyak juga sumber-sumber energi terbarukan yang lebih “nyeleneh”, seperti misalnya penggunaan sampah untuk menghasilkan energi. PLTSa memiliki potensi untuk dikembangkan terutama di kota-kota besar di Indonesia, mengingat banyak sampah yang dihasilkan setiap harinya, yang ujung-ujungnya malah tidak terurus dengan baik dan menimbulkan masalah kesehatan. Dengan penanganan yang lebih baik, sampah yang kelihatannya tidak berguna ini dapat dimanfaatkan kembali menjadi listrik yang dapat mendukung kota asal sampah tersebut!

Inovasi juga terus dilakukan di bidang-bidang energi lain yang skalanya lebih kecil – misalnya, percobaan prototip layang-layang yang dapat menggantikan turbin angin raksasa untuk menghasilkan listrik, jalanan yang menghasilkan listrik menggunakan konsep piezoelektrik, atau bahkan pemanfaatan gaya gravitasi untuk mendayai lampu yang dapat disebarkan ke daerah-daerah terpencil di berbagai penjuru dunia. Inovasi yang terus menerus dan kreatif ini bisa saja menjadi sumber energi potensial yang dapat mengaliri listrik untuk komunitas-komunitas dan lingkungan sekitar kita.

Melihat berbagai jenis potensi dan sumber energi yang dapat dikembangkan, Indonesia pun tidak kalah potensial – terdapat total 700 GW potensi energi terbarukan di Indonesia! Jika dikembangkan dan dikelola dengan baik, aspirasi bauran energi pemerintah yang tertuang dalam Rancangan Umum Energi Nasional bukan tidak mungkin untuk dicapai.

Toh, banyak lho contoh-contoh negara lain yang telah berhasil mengembangkan sektor energi terbarukannya – dan dalam kasus-kasus ekstrim seperti Islandia, 100% dari listriknya berasal dari sumber energi terbarukan! Potensi yang ada, didukung oleh peraturan yang ramah investasi, sebuah masa depan yang didukung oleh sumber energi terbarukan.

Perlu secara cermat kita perhatikan aspek non-teknis dan komersial dalam pengembangan energi terbarukan. Kadang, kita terlalu fokus pada area riset dan pengembangan secara teknis, kita mengabaikan aspek komersial yang malah dapat menjadi faktor penentu sebuah investasi di sektor energi terbarukan. Biaya pengembangan energi terbarukan yang dapat dibilang relatif lebih mahal dibanding tenaga fosil seperti batubara dan minyak bumi membuat beberapa pemerintahan atau investor lebih memilih tenaga fosil saja ketimbang sumber energi terbarukan. Kabar baiknya ialah biaya pengembangan EBT terus turun, membuat keekonomian proyek semakin membaik. Lalu, dibutuhkan pula kebijakan yang bukan dalam bentuk insentif fiskal atau berhubungan dengan keekonomian pula – misalnya dengan adanya struktur pengelolaan yang lebih kuat atau jaringan listrik yang lebih pintar mengintegrasikan berbagai sumber energi, prospek energi terbarukan menjadi terbuka lebih besar.

Untuk membantu investor, pemerintah dapat memperkenalkan paket-paket kebijakan atau insentif yang akan membuat iklim investasi kian ramah – kita masih punya PR dalam hal ini. Dalam survei Renewable Energy Country Attractiveness Index yang dikeluarkan oleh EY, nama Indonesia belum muncul di daftar-daftar atas. Jika pemerintah dapat terus mengevaluasi kebijakan yang ada dan membandingkan keatraktifan negara dengan negara lain agar investor tertarik untuk memilih berinvestasi di Indonesia, “potensi” akan berubah menjadi “realisasi”!

Selain mengembangkan energi terbarukan, kita juga dapat memilih menggunakan cara menurunkan emisi, baik dengan teknologi kompleks yang bernama Carbon Capture and Storage atau hal-hal sederhana yang dapat kita lakukan sehari-hari melalui konservasi energi.

CCS adalah suatu teknologi dimana fasilitas penghasil energi seperti kilang LNG atau pembangkit listrik yang menghasilkan karbon dioksida, diberikan suatu modul atau fitur tambahan dimana karbon dioksida yang dihasilkan dari fasilitas tersebut dapat ditangkap dan “ditanam” kembali ke dalam tanah. Praktis, karbon dioksida yang tadinya akan keluar ke atmosfir akan diambil lagi dan dimasukkan ke dalam lapisan tanah sehingga tidak memperparah isu yang timbul karena emisi karbon dioksida yang berlebih.

Jika CCS terdengar seperti suatu cara yang tidak mungkin dilakukan oleh pribadi, yuk kita tengok apa yang saya dan anda sebagai individu bisa lakukan untuk membantu mencapai pembangunan energi berkelanjutan!

Cara yang palnig mudah dan aplikatif bagi inidividu ialah dengan menghemat energi! Sederhana bukan? Dengan menghemat energi yang kita pakai, kita sudah mengurangi sisi permintaan dari neraca energi, yang berarti lebih sedikit energi yang dibutuhkan untuk kehidupan yang tetap layak di masa kini dan di masa depan. Misalnya, dengan memilih menggunakan lampu LED dibandingkan lampu pijar, kita sudah membantu menurunkan daya yang dibutuhkan untuk memberi tingkat penerangan yang sama. Dengan mendesain tempat tinggal kita untuk mengadopsi desain yang lebih ramah lingkungan dengan pencahayaan dan sirkulasi udara alami, misalnya, kita menurunkan kebutuhan atas peralatan rumah tangga untuk kenyamanan hidup yang layak – dan sebagai bonusnya, menurunkan tagihan listrik bulanan!

Dalam skala industri, banyak yang bisa dilakukan, seperti misalnya mendesain fasilitas produksi kita agar sesuai dengan standar bangunan hijau. Bukan hanya memilih komponen-komponen yang lebih efisien energi, kantor-kantor juga dapat menggunakan energinya secara lebih optimal, mengingat bahwa sudah ada sistem teknologi informasi yang dapat digunakan untuk konservasi energi komersial. Untuk lebih mempercepat dan mendukung pengembangan bangunan hijau dalam sektor komersial, pemerintah sudah melakukan langkah awal dengan mengeluarkan kebijakan mendukung bangunan hijau, seperti misalnya Peraturan Menteri PUPR No. 2/2015 tentang Bangunan Hijau.

Melihat semua kemungkinan yang dapat kita realisasikan diatas, kita dapat melihat bahwa untuk merealisasikan pengembangan energi berkelanjutan di masa depan, kita tidak hanya dapat mengandalkan satu atau dua pihak tertentu. Pemerintah, investor swasta di bidang energi, badan usaha milik negara pengelola energi, sektor industri, dan bahkan kita sebagai pengguna akhir, memiliki perannya masing-masing dalam membuat pembangunan energi yang berkelanjutan dan andal di masa depan.

Jika masing-masing pemangku kepentingan dapat melakukan kewajibannya dengan baik, serta adanya diskusi yang sehat dan konstruktif diantara semua pemangku kepentingan tersebut, tentulah sebuah masa depan dimana energi dapat dihasilkan dengan lebih baik dan bertanggung jawab, dan tidak mengkompromikan kebutuhan energi dan kelayakan hidup kita.

Mari, kita semua lakukan peran kita masing-masing!

__

Hari terakhir dari #15HariCeritaEnergi!

Informasi lebih lanjut mengenai sektor energi Indonesia dapat diakses melalui www.esdm.go.id!

Leave a Reply