Seri Sumber Energi Terbarukan: Sang surya yang bukan hanya menyinari dunia, namun juga melistrikinya!

Ada, lho, sebuah sumber energi terbarukan yang energinya yang ada di bumi saat ini sudah 10.000 kali lebih banyak dari kebutuhan energi global! Tidak percaya? Secara terus menerus, terdapat 173.000 terawatt energi dari matahari yang sampai ke bumi. Wow! Jika begitu, kenapa kita tidak langsung memakai saja energi dari matahari tersebut untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari? Apakah hambatan perkembangan pemanfaatan tenaga surya? Mari kita simak satu per satu, dimulai dari memahami bagaimana cara memanfaatkan energi surya menjadi listrik.

Kita mungkin sering melihat sel surya di banyak barang-barang kita sehari-hari – misalnya pada kalkulator kita, hiasan mobil, dan powerbank. Kita tahu bahwa sel-sel kotak berwarna hitam itu adalah sumber energi bagi barang-barang tersebut, namun, apakah sebenarnya yang terjadi di dalam sel tersebut?

Sel surya, atau panel fotovoltaik, adalah sebuah panel semikonduktor yang biasanya terbuat dari silikon. Saat sinar matahari mengenai panel tersebut, elektron yang terdapat di dalam panel ini tereksitasi dan bergerak, yang kemudian menghasilkan arus listrik. Untuk dapat membayangkan dengan lebih mudah, mari kita simak video dibawah ini:

Keuntungan pemanfaatan energi surya

Terdapat beberapa keuntungan dari pemanfaatan energi surya – pertama-tama, tentunya sebagai sumber energi terbarukan, sumber energi ini sangat minim emisi dan dampak lingkungannya. Ditambah lagi, seperti yang sudah disebutkan diatas, sumber energi ini merupakan sumber energi yang pada hari ini sudah berlimpah, sehingga yang harus kita lakukan ialah menangkap potensinya dan memanfaatkannya secara optimal.

Keuntungan kedua ialah panel surya dapat digunakan di daerah-daerah terpencil dan dalam skala yang kecil. Berbeda dengan sumber energi atau pembangkit listrik lain yang lebih tersentralisasi, pemanfaatan energi surya dapat dilakukan di area-area yang lebih kecil, misalnya rumah anda masing-masing. Dengan menambahkan panel surya di atap rumah, anda sudah dapat  menghasilkan listrik sendiri, “memanen” dari sinar matahari yang setiap hari menyinari rumah anda. Pengaplikasiannya di Indonesia tentu sangat relevan – daerah-daerah yang mungkin akan susah untuk dicapai dengan sistem pembangkit tersentralisasi, misalnya di pulau-pulau terluar, dapat mengembangkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah tersebut yang tentu tidak sebanyak listrik yang dibutuhkan di kota-kota besar. Misalnya saja, baru awal minggu ini, kita melihat #ListrikNyalaDiAmdui! Desa Amdui, Kabupaten Raja Ampat akhirnya teraliri oleh listrik yang dibangkitkan dari PLTS Amdui.

PLTS Terpusat d Ds. Amdui mrpk prog. #KESDM melalui @DitjenEBTKE  yg dikerjakan sekitar 2,5 bulan. Sejak 27 Juli 2017 #ListrikNyalaDiAmdui pic.twitter.com/dzWBtqj83Y

Adik-adik kita di Amdui, kini pun dapat belajar di malam hari diterangi oleh lampu listrik. Salah satu bukti lagi bagaimana energi berdampak langsung kepada peningkatan hidup masyarakat dan pembangunan, seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Status Perkembangan PLTS di Indonesia

Dengan skalabilitas sampai ke sistem-sistem kecil untuk atap perumahan sampai pembangkit skala multi-megawatt, instalasi PLTS di dunia berkembang dengan sangat pesat beberapa hari terakhir. Namun bagaimana dengan di Indonesia? Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memiliki potensi yang sangat tinggi di Indonesia, potensi untuk perkembangannya bahkan melebihi semua energi terbarukan lainnya. Namun, PLTS terbesar di Indonesia hanya sebesar 5MW sedangkan potensinya sampai ratusan gigawatt. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ada banyak faktor, dua diantaranya adalah:

  1. Jaringan yang belum memadai: Meskipun sangat ekonomis dan mudah dipasang, masalah utama PLTS adalah ketidakstabilan dari energi yang dihasilkannya. Saat ada awan yang melintas, energi yang dihasilkan oleh sebuah PLTS dapat turun secara tiba-tiba dan mengganggu jaringan PLN.

 Hal ini terjadi pada PLTS Kupang (5 MWp) yang sempat ditahan pengeluarannya menjadi 3 MW karena terlalu mengganggu sistem PLN di Kupang, NTT. Saat itu, kebutuhan listrik di jaringan Kupang hanyalah 30 MW. Dengan PLTS yang 5 MW, saat terjadi kenaikan atau penurunan secara mendadak, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) disana sulit untuk mengikutinya, maka dari itu pembatasan 10% dari total kapasitas terpasang menjadi batas umum untuk sistem energi terbarukan di Indonesia. Namun, kita dapat mengakalinya dengan sistem jaringan yang lebih pintar atau smart grid, dimana kenaikan dan keturunan daya pada jaringan dapat dikontrol oleh sistem sehingga dapat menerima lebih banyak energi terbarukan.

  1. Insentif untuk produk-produk energi terbarukan yang masih kurang. Di banyak negara-negara lain, seperti contohnya di Arab Saudi, harga listrik yang dihasilkan oleh PLTS sangatlah murah, bahkan jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil! PLTS termurah dan terbesar di dunia ini (PLTS Sweihan – 1.2 GW) hanya bertarif 0.24 USD sen/kWh. Terdengar terlalu baik untuk menjadi kenyataan, bukan? Menurut analisa beberapa pengamat, ada banyak faktor yang dapt menyebabkan ini, yang terbesar adalah peniadaan pajak bagi pengembang dan importir panel fotovoltaik, harga lahan di gurun yang gratis, dan juga bunga pinjaman yang sangat murah. Singkat kata, dibutuhkan dukungan dari pemerintah dalam bentuk insentif fiskal maupun fasilitas non-fiskal agar tercapainya suatu masa depan energi terbarukan yang sangat murah, bukan hanya impian belaka.

Masa Depan PLTS di Indonesia

Meskipun ada dua tantangan utama untuk pengembangan PLTS di Indonesia, masa depan untuk PLTS masih sangat kuat – selama matahari tetap bersinar di negara kepualauan ini. Pertama-tama terdapat tren harga fotovoltaik yang turun secara drastis dalam dekade terakhir. Hal ini tentunya akan meningkatkan keatraktifan investasi dalam industri PLTS.

Instalasi solar fotovoltaik dan harga panel fotovoltaik global (sumber: IRENA)

Karena harga yang sudah dibawah 1 USD per Watt, pengembangan fotovoltaik sudah mulai bermunculan dan berkembang pesat di dunia. Di Indonesia pun, beberapa perusahaan pengembang PLTS sudah berhasil mendapatkan perjanjian jual-beli listrik dengan PLN, yaitu untuk pengembangan PLTS di Sulawesi Utara dan beberapa lokasi yang tersebar di NTB, dengan harga sekitar 10 USD sen/kWh. Harga yang cukup ekonomis untuk pembangkit energi terbarukan.

Ditambah lagi, perusahaan produsen panel surya terus mencari cara agar panel surya dapat menjadi lebih efisien mengubah energi surya menjadi energi listrik. Ini bisa dicapai dengan desain semikonduktor dan panel yang lebih efisien dan andal, sehingga energi surya tidak terpantulkan namun lebih banyak terserap.

Dengan biaya yang terus turun, pengaplikasian dan pengembangan yang sudah kian bermunculan, dan inovasi yang terus dilakukan oleh pengembang untuk membuat panel surya yang makin efisien secara teknis, bukan tidak mungkin kita melihat masa depan dimana surya bukan hanya menyinari dunia melalui sinarnya, namun juga melistriki dunia!

______

Hari kedelapan dari #15HariCeritaEnergi

Informasi lebih lanjut mengenai sektor energi Indonesia dapat diakses melalui www.esdm.go.id!

One thought on “Seri Sumber Energi Terbarukan: Sang surya yang bukan hanya menyinari dunia, namun juga melistrikinya!”

Leave a Reply