Realistiskah pengembangan energi terbarukan itu?

Terkadang, membayangkan tentang listrik dihasilkan melalui sumber energi baru dan terbarukan terdengar sangat utopis, terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Apakah masa depan dimana mayoritas produksi listrik di dunia dihasilkan melalui sumber EBT hanya sebatas angan-angan?

Di Indonesia, mungkin sumber EBT yang paling sering kita dengar adalah biomassa – yaitu bahan biologis yang seperti tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Salah satu contoh biomassa yang paling jamak adalah biofuel atau bahan bakar nabati (BBN), suatu jenis bahan bakar yang diproduksi melalui proses kimiawi atau biologis yang diambil dari tanaman atau limbah. Biomassa dan biofuel contohnya adalah bahan bakar yang diproduksi dari sawit, tebu, karet, kelapa, atau biogas yang terbuat dari kotoran ternak dan sampah kota.

Sumber energi terbarukan primer di masing-masing negara dapat berbeda, tergantung dari potensi masing-masing. Hari ini kita akan melihat contoh-contoh penggunaan dan pengembangan sumber energi terbarukan di negara-negara lain, untuk menjawab pertanyaan apakah realistis membayangkan dan menargetkan perkembangan EBT yang begitu ambisius?

Islandia

Islandia, suatu negara kecil di utara Eropa yang berpenduduk 335 ribu jiwa, memproduksi 100% listriknya dari sumber energi terbarukan. Ya, seratus persen! 73% dari listriknya diproduksi dari tenaga air – dimana pembangkit memanfaatkan pergerakan air untuk menciptakan listrik – dan 27% diproduksi dari energi geothermal atau panas bumi. Memang terdapat banyak sekali gunung api aktif yang terdapat di Islandia, membuka banyak potensi untuk pemanfaatan panas bumi.

Saat digabung dengan sektor transportasinya yang masih mengandalkan bahan bakar fossil sekalipun, pada tahun 2016 masih 82.5% konsumsi energi final di Islandia yang dihasilkan dari sumber-sumber energi terbarukan.[1] Tabel dibawah menunjukkan pergerakan rasio sumber EBT terhadap konsumsi energi final di Islandia. Dapat kita lihat bahwa dari tahun ke tahun, secara umum terdapat peningkatan penggunaan EBT dimulai dari hanya 12.4% di tahun 1940 yang terus meningkat menjadi 82.5% di tahun 2016.

Filipina

Setelah Islandia, Filipina adalah negara penghasil energi geothermal terbesar kedua, dimana pada tahun 2012, 14% dari kebutuhan listrik tercukupi melalui energi geothermal. Di tahun 2012 pula, 15% dari kebutuhan listrik di Filipina diproduksi dari pembangkit listrik tenaga air atau hydro. Salah satu faktor yang mendorong berkembangnya sektor energi terbarukan di Filipina ialah produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah Filipina di tahun 2008 tentang Energi Terbarukan (Republic Act No. 9513), dimana pemerintah memberikan insentif fiskal dan non-fiskal untuk investor yang bergerak di industri energi terbarukan. Insentif tersebut termasuk tax holiday atau periode bebas pajak, depresiasi terakselerasi, pembebasan bea masuk, dan Feed-in Tariff. Dikeluarkannya peraturan dan insentif ini telah berhasil menarik investor – dari tahun 2008-2012, 43 kontrak servis/operasional geothermal ditandatangani dan beberapa proyek geothermal tersebut sudah memasuki masa operasional dan bahkan sudah direncanakan penambahan kapasitasnya.

Republik Rakyat Tiongkok – RRT

RRT mungkin lebih banyak diketahui sebagai negara produsen listrik paling tinggi, dan negara yang penggunaan batubara sebagai sumber energi utamanya amat tinggi. 23% dari total listrik yang dihasilkan melalui batubara di dunia dikonsumsi oleh RRT! Namun, tahukah anda bahwa walau produksi sel Surya di RRT berkembang 100 kali lipat sejak tahun 2005? Investasi di pembangkit listrik tenaga air, angin, surya, dan nuklir naik sebesar 40% dari tahun 2008 ke tahun 2012, yaitu sebesar 200 miliar RMB (sekitar US$ 32 miliar). Investasi ini dapat dilihat hasilnya dimana kapasitas pembangkit listrik tenaga angin (atau disingkat PLTB – pembangkit listrik tenaga bayu) naik lima kali lipat di tahun 2009 – 2013. Investasi ini juga menurunkan biaya produksi turbin dan sel surya, karena skala manufaktur yang semakin besar.

Disadur dari EIA/China Electricity Council yang dilaporkan dalam artikel Nature

Bahkan, jika dilihat dari total listrik yang diproduksi, di tahun 2013 RRT merupakan negara produsen EBT terbesar di dunia dengan 378 GW listrik yang diproduksi, diatas Amerika Serikat yang pada saat itu menghasilkan 172 GW. Walaupun dalam bauran energi final di tahun 2016, sumber energi utama RRT masih merupakan batubara (dengan porsi 62%), RRT menunjukkan progres yang baik dimana proporsi batubara turun dan proporsi EBT naik menjadi 19,7% dari total konsumsi energi RRT.

India

Contoh terakhir yang akan kita bahas adalah India. Menyadari bahwa negaranya rentan terhadap dampak-dampak perubahan iklim seperti naiknya muka air laut yang mengancam banyak penduduk yang tinggal di area pantai dan musim yang tidak menentu yang menyebabkan kegagalan panen, India berkomitmen untuk meningkatkan investasi dalam sektor EBT dalam memenuhi kebutuhan energinya. Berdasarkan Rencana Energi Nasional yang dikeluarkan oleh pemerintah India di Desember 2016 silam, pemerintah India menargetkan kapasitas pembangkit listrik non-energi fosil (terutama nuklir dan tenaga air) untuk mencapai 20,3% di akhir 2021-2022 dan mencapai 24,2% di akhir 2026-2027 dari bauran energi total, atau kenaikan sebesar 47-55% dari kapasitas yang sudah terpasang sekarang. Dampak peningkatan EBT ini juga dapat secara langsung dilihat di estimasi emisi karbon dioksida, dimana rerata tahun 2015-2016 adalah 0,732 kg CO2/kWh dan diestimasikan turun menjadi 0.581 kg CO2/kWh di tahun 2021-2022.

Bagaimana bisa? Investasi swasta yang disebabkan oleh tingkat daya saing dan kemenarikan investasi. Berdasarkan laporan tahunan “Renewable Energy Country Attractiveness Index” yang dikeluarkan oleh EY, India berada di urutan kedua dalam peringkat negara yang paling menarik sektor EBTnya, menyalip dan menggantikan Amerika Serikat yang turun ke posisi ketiga. RRT menjadi negara yang paling atraktif, dan konsisten dari penjabaran yang telah ditulis sebelumnya.

Hal yang dapat disimpulkan dari empat contoh diatas adalah: ya, masa depan dengan EBT tentulah realistis. Tentu tidak semua negara dapat disamaratakan mengingat perbedaan kondisi dan potensi yang masing-masing negara miliki. Islandia dapat memenuhi kebutuhan listriknya dari tenaga air dan panas bumi disebabkan oleh kebutuhan energinya yang relatif kecil dan potensi yang besar, namun melihat perkembangan EBT di Filipina, RRT, dan India dimana potensi EBT didukung oleh iklim investasi dan produk hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah yang konsisten dengan rencana pengadaan energi jangka panjang.

Pertanyaan berikutnya adalah, lantas, bagaimanakah sebenarnya potensi pengembangan EBT di Indonesia? Sumber energi yang manakah yang paling potensial? Besok kita akan membahas lebih lanjut potensi dan contoh-contoh proyek pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan yang ada di Indonesia, tetap dalam #15HariCeritaEnergi!

______

Referensi

[1] Disadur dari Iceland National Energy Authority (http://www.nea.is/the-national-energy-authority/energy-data/data-repository/)

______

Hari ketiga dari #15HariCeritaEnergi

Informasi lebih lanjut mengenai sektor energi Indonesia dapat diakses melalui www.esdm.go.id!

2 thoughts on “Realistiskah pengembangan energi terbarukan itu?”

Leave a Reply