Menghemat energi lebih lanjut melalui bangunan hijau

Sebagaimana telah kita ketahui dari artikel sebelumnya, pilar terakhir dalam upaya menciptakan pembangunan berkelanjutan dan mencegah dampak perubahan iklim adalah meningkatkan efisiensi dalam pemakaian energi. Sebagian dari efisiensi tersebut melibatkan pemakaian listrik rumah tangga, dengan menggunakan lampu LED serta perangkat rumah tangga lainnya yang hemat energi. Namun, sebagaimana halnya kita hanya menghabiskan sebagian waktu kita di rumah, efisiensi energi juga melibatkan sektor komersial – kantor tempat kita bekerja, mal tempat berakhir pekan, ataupun kawasan-kawasan perindustrian yang memproduksi barang-barang yang kita gunakan sehari-hari.

Efisiensi energi di sektor komersial merupakan sebuah pendekatan menuju pembangunan berkelanjutan yang menarik untuk ditelusuri. Di satu sisi, sektor komersial merupakan salah satu pengguna energi terbesar – di Amerika Serikat misalnya, tercatat bahwa bangunan komersial mengkonsumsi sebesar 19% dari seluruh energi yang dikonsumsi di Amerika Serikat. Namun, di sisi lain, bangunan komersial merupakan low-hanging fruit untuk kegiatan penghematan energi. Selain sifat pengoperasian gedung komersial yang lebih terpusat (lebih mudah untuk mengendalikan satu operator gedung dibanding rumah tangga seribu karyawan yang bekerja di dalamnya), penghematan energi juga memberikan dampak bisnis yang jelas bagi pengelola gedung dalam bentuk pengurangan biaya operasional yang cukup signifikan, terlebih dengan economies of scale yang memungkinkan proyek efisiensi energi pada gedung menjadi lebih efektif.

Pemakaian energi di gedung komersial

Tahukah Anda bahwa pemakaian listrik satu mal di Jakarta – mungkin tempat Anda sedang berada saat ini, menyeruput kopi sambil membaca tulisan ini – bisa menerangi setengah kabupaten di daerah? Mungkin tidak terlalu mengejutkan, mengingat terang dan sejuknya gedung-gedung raksasa tersebut seluruhnya tentunya membutuhkan listrik.

Selain mal, gedung di sektor komersial terdiri atas berbagai jenis, dan karakteristik pemakaian energinya pun bergantung pada jenisnya. International Finance Corporation (IFC) melaporkan pada 2011, rumah sakit di Jakarta rata-rata menggunakan listrik sebanyak 270 kWh/ m2, mal 297 kWh/m2, hotel 293 kWh/m2, dan kantor 240 kWh/m2. Pemakaian listrik tersebut lebih boros apabila dibandingkan dengan Jepang, di mana menurut Japan International Cooperation Agency (JICA), pada tahun 2009 rata-rata penggunaan listrik di rumah sakit adalah 175 kWh/m2, mal 225 kWh/m2, hotel 160 kWh/m2, dan kantor 140 kWh/m2.

Pemakaian energi yang besar pada gedung komersial digunakan untuk beberapa hal, di antaranya:

  1. Pendingin ruangan: Dengan posisi Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa, sebagian besar wilayah Indonesia memiliki iklim tropis yang tidak hanya panas namun juga lembap sehingga menimbulkan perasaan gerah. Dengan demikian, diperlukan pendinginan ruangan agar iklim di dalam ruangan lebih nyaman untuk berkegiatan, terlebih di gedung-gedung komersial yang memang difungsikan untuk mendukung kegiatan-kegiatan di dalamnya. Pendingin ruangan (air conditioning) memiliki dampak yang besar terhadap pemakaian energi sebuah gedung. Berdasarkan perhitungan JICA, kenaikan suhu pendingin ruangan sebesar 1° C dapat mengurangi pemakaian listrik sebesar 3 hingga 5%.
  2. Lampu dan penerangan: Selain pendingin ruangan, gedung komersial juga membutuhkan penerangan yang cukup untuk menunjang kegiatan di dalamnya, terutama di bagian-bagian gedung yang tidak terjangkau oleh penerangan alami. Menurut perhitungan Energy Information Administration di Amerika Serikat, penerangan mencakupi sekitar 11% dari penggunaan listrik di sektor komersial.
  3. Pengelolaan air: Peralatan yang digunakan untuk mengelola air di dalam sebuah gedung juga turut menggunakan listrik dalam jumlah yang tidak sedikit. Peralatan tersebut antara lain pompa air dan pemanas air di gedung-gedung yang membutuhkan air panas, seperti hotel, rumah sakit, dan beberapa mal dan gedung perkantoran.
  4. Perangkat listrik lainnya: Perangkat listrik lain yang digunakan dalam sebuah gedung komersial, seperti komputer dan perangkat elektronik lainnya, termasuk trafo yang digunakan untuk mengelola kelistrikan gedung itu sendiri, juga berkontribusi dalam pemakaian listrik sebuah gedung.

Bangunan hijau: pendekatan penghematan energi pada gedung komersial

Dengan skala yang lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga, meskipun menggunakan listrik dalam jumlah yang lebih besar pula, terdapat peluang penghematan energi besar yang hanya dapat dilakukan pada gedung-gedung bersakala komersial. Istilah yang umum digunakan untuk menjelaskan aneka ragam metode penghematan energi dan sumber daya pada gedung komersial adalah gedung hijau, atau green building.

Pendekatan paling sederhana yang bisa diterapkan tentunya adalah menggunakan komponen-komponen listrik yang lebih hemat energi, seperti penerangan menggunakan lampu LED serta komponen-komponen listrik lainnya yang lebih efisien. Pendekatan ini tidak jauh berbeda dengan yang dapat diterapkan di skala rumah tangga.

Untuk meningkatkan efisiensi dari komponen kelistrikan yang sudah ada, teknologi informasi dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemakaian energi pada sebuah gedung. Contoh sederhananya adalah menggunakan sensor untuk mengatur lampu dan pendingin ruangan untuk dimatikan pada saat sebuah ruangan sudah tidak ditempati orang. Opsi yang lebih canggih adalah menggunakan teknologi Internet of Things serta pembelajaran mesin (machine learning) untuk secara otomatis menemukan pola-pola yang dapat digunakan untuk memprediksi dan mengoptimlakan penggunaan energi. Pendekatan ini disebut sebagai predictive building energy optimization, dan sudah mulai digunakan oleh beberapa perusahaan untuk mengoptimalkan pemakaian energi di kawasan perkantoran mereka, di antaranya Microsoft yang dapat mengurangi pemakaian listrik sejumlah 10% di kantor pusatnya di kawasan Seattle, Amerika Serikat, tanpa melakukan renovasi pada gedung-gedungnya.

Menggunakan komponen yang hemat energi serta mengoptimalkan komponen-komponen yang sudah ada dapat meningkatkan efisiensi energi gedung atau kawasan gedung komersial, namun penghematan terbesar dapat dilakukan dengan merancang gedung dari awal agar lebih efisien. Antara lain, gedung dapat dirancang agar mengoptimalkan pemanfaatan penerangan dan pengaturan suhu ruangan alami untuk mengurangi kebutuhan energi untuk pengaturan suhu dan penerangan. Pemilihan material yang tepat juga dapat mengurangi kebutuhan energi sebuah gedung. Sebagai contoh, Federation Square, sebuah kawasan gedung serbaguna di Melbourne, Australia, menggunakan “labirin” yang terbuat dari beton untuk menciptakan sistem pendinginan pasif yang dapat mendinginkan isi gedung di musim panas, namun juga menginsulasi isi gedung di musim dingin.

Labirin beton yang digunakan untuk pendinginan pasif di Federation Square, Melbourne, Australia
Labirin beton yang digunakan untuk pendinginan pasif di Federation Square, Melbourne, Australia

Regulasi untuk mendukung bangunan hijau

Secara umum, upaya penghematan energi pada gedung komersial melalui berbagai macam pendekatan yang tersedia memberikan dampak bisnis yang positif bagi operator gedung serta perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pemanfaatan gedung komersial. Kelompok industri seperti Konsil Gedung Hijau Indonesia (Green Building Council Indonesia) juga terlibat untuk mendukung upaya-upaya tersebut.

Untuk memberikan standar yang tepat serta kepastian hukum untuk pengelolaan gedung secara ramah lingkungan, Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat turut menerbitkan Peraturan Menteri PUPR No. 2/2015 tentang Bangunan Hijau. Berdasarkan Peraturan Menteri tersebut, bangunan gedung hijau adalah bangunan gedung yang memenuhi persyaratan bangunan gedung dan memiliki kinerja terukur secara signifikan dalam penghematan energi, air, dan sumber daya lainnya melalui penerapan prinsip bangunan gedung hijau sesuai dengan fungsi dan klasifikasi dalam setiap tahapan penyelenggaraannya. Sebagai kelanjutan dari Permen tersebut, Kementerian PUPR juga menerbitkan Strategi Implementasi Penyelenggaraan Bangunan Gedung Hijau 2015-2019, yang terutama ditujukan untuk kota metropolitan serta kawasan-kawasan strategis nasional.

Jika bangunan saja dapat ber”hemat” energi, masa kita tidak bisa?

___

Hari ke-tiga belas dari #15HariCeritaEnergi

Informasi lebih lanjut mengenai sektor energi Indonesia dapat diakses melalui www.esdm.go.id!

Leave a Reply