Energi Baru & Terbarukan: Sebuah Jawaban untuk Tantangan Energi Indonesia Mendatang?

Indonesia, 2017. Tepat berulang tahun yang ke-72 hari ini. Terdapat 260 juta penduduk di negeri kepulauan kita yang terdiri lebih dari 14 ribu pulau ini, dimana setengah dari populasi tinggal di daerah perkotaan dan setengahnya lagi tinggal di pedesaan. Sekitar sepuluh persen dari populasi tersebut, atau enam juta rumah tangga, masih belum mendapatkan akses listrik. Kita dengan nyamannya membaca tulisan ini, kemungkinan besar berada di sebuah ruangan yang suhunya dengan nyaman diatur melalui sebuah unit AC, mungkin dengan sebuah speaker yang melantunkan musik dan charger handphone yang sudah siap sedia tercolok di steker, alih-alih baterai handphone kritis tinggal 10% – di sisi lain, masih terdapat penduduk Indonesia yang masih harus tergantung kepada sumber-sumber energi atau pencahayaan tradisional seperti pelita dan petromax yang menggunakan paraffin atau minyak hewani, dan briket arang untuk kegiatan sehari-harinya.

95% dari kebutuhan energi Indonesia masih dipenuhi melalui bahan bakar fosil (RUEN 2017), terutama dari minyak bumi. Dalam aspek bauran energi, kita masih dibawah rerata dunia dimana sekarang sekitar 80% energi global berasal dari bahan bakar fosil (World Energy Outlook 2016). Perlu diingat bahwa bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang tidak terbarukan – jumlah cadangannya akan terus menurun seiring dengan berjalannya waktu.

Dengan bertumbuhnya ekonomi dan popoulasi Indonesia, tentu kebutuhan energi meningkat pula. Melihat laju pertumbuhan populasi yaitu 1.3% per tahunnya, dan pertumbuhan ekonomi 5-7%, menjadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana negara kita ini akan menjawab tantangan penyediaan energi baik di masa sekarang dimana masih banyak penduduk yang belum dapat secara penuh menikmatinya dan di masa depan – dapatkah kebutuhan energi kita terpenuhi untuk mendukung pertumbuhan populasi dan ekonomi?

Terlebih lagi, pemenuhan kebutuhan energi tersebut haruslah direncanakan dengan pola pikir energi berkelanjutan – sebuah pola pikir dimana kita dapat memenuhi kebutuhan energi kita saat ini namun tidak mengurangi kemampuan anak cucu kita untuk memenuhi kebutuhan energi mereka sendiri nantinya, atau membahayakan kehidupan mereka.

Sebuah isu yang erat hubungannya dengan energi dan pembangunan berkelanjutan ialah pemanasan global dan perubahan iklim – tentu bukan sesuatu yang asing lagi bagi kita. Sering kita mendengar pemanasan global dan perubahan iklim disana-sini, bagaimana hal tersebut akan menjadi sebuah bencana besar! Terkadang pembahasannya dapat terdengar sangat ilmiah dan merupakan pembahasan tingkat tinggi yang sepertinya bukan sebuah isu yang cocok untuk dibicarakan sehari-hari dengan teman sembari menikmati kopi – namun tahukah anda bahwa dampak perubahan iklim tersebut dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali?

Bahwa ialah salah satu sebab mengapa musim semakin tidak menentu, perubahan curah hujan membuat banyak petani di Indonesia mengalami gagal panen? Bahwa kenaikan suhu air laut dalam jangka panjang dapat mempengaruhi jumlah ikan yang tersedia untuk nelayan-nelayan kita? Belum lagi mereka harus beradaptasi terhadap kondisi cuaca ekstrim yang akan lebih sering terjadi karena perubahan iklim. Kenaikan muka air laut juga akan berdampak bagi daerah-daerah pantai dan pulau-pulau kecil – di tahun 2100 tidak lagi kita dapat mengunjungi rumah para Laskar Pelangi di Pulau Belitung atau pergi berlibur ke Nusa Penida karena pulau-pulau tersebut merupakan dua dari 115 pulau yang akan hilang sepenuhnya di tahun 2100 jika kenaikan muka air laut tetap pada laju saat ini (Susandi, dkk, 2008). Bahkan, di tahun 2030 bandar udara Soekarno Hatta akan mulai tergenang air laut, dan terlebih lagi pada tahun 2050, 24.3% dari luas Jakarta akan dibanjiri air laut (Hadi, Susandi et al., 2007)!

Melalui komitmen-komitmen dan rencana aksi yang tertuang dalam berbagai dokumen resmi negara dan ratifikasi Indonesia dalam konvensi internasional seperti United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Protokol Kyoto, dan Paris Agreement, maupun produk hukum seperti UU 61/2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, pemerintah telah menyadari pentingnya memasukkan penurunan emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim dalam merancang perencanaan penggunaan dan penyediaan energi di masa depan.

Lantas, dihadapi oleh tantangan pemenuhan kebutuhan energi yang kian meningkat, distribusi energi yang tidak merata, ditambah diperlukannya suatu rencana dan aksi konkrit untuk meminimalkan dampak perubahan iklim, mampukah kita sebagai sebuah negara menghadapi tantangan tersebut, dan seperti apakah potret energi Indonesia di masa depan?

Day1 Energy Mix.png
Bauran energi berdasarkan RUEN 2017 (olahan lanjutan oleh penulis)

Sasaran bauran energi yang ingin dicapai oleh pemerintah tertuang dalam Buku Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN) 2017 yang secara hukum ditetapkan melalui Peraturan Presiden No 22/2017. Jika pada tahun 2015, 95% dari sumber energi primer merupakan energi fosil, ditargetkan pada tahun 2025 angka tersebut turun menjadi 78% dan menjadi 69% di tahun 2050. Dapat dilihat bahwa pemerintah menargetkan perkembangan energi terbarukan yang sangat signifikan di delapan tahun mendatang ini, sebagai salah satu jawaban atas tantangan-tantangan energi yang telah disebutkan diatas.

Energi baru dan terbarukan, yang disingkat menjadi EBT, merupakan sumber energi yang dihasilkan dari proses alam yang berkelanjutan dan berasal dari sumber daya yang dapat diperbaharui – misalnya tenaga surya, angin, dan geothermal. Selain sumbernya yang berkelanjutan, sumber energi ini juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih sedikit dari bahan bakar fosil, atau tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca sama sekali, sehingga dapat pula menjawab dan mencegah permasalahan lanjut yang timbul akibat perubahan iklim.

Pertanyaan selanjutnya ialah, apakah realistis sasaran bauran energi yang ditargetkan oleh pemerintah? Apakah kita berada di jalan yang benar dalam rangka mencapai bauran tersebut, dan secara lebih lanjut, ke arah pembangunan energi berkelanjutan?

Dalam 15 hari kedepan, kita akan membahas lebih dalam bagaimana kondisi sektor energi dan ketahanan energi Indonesia saat ini, apa saja potensi yang Indonesia miliki untuk pengembangan EBT, bagaimana perkembangan sektor energi terbarukan di Indonesia maupun tantangannya, dan banyak lagi. Beberapa “mitos” dan salah kaprah seputar energi dan EBT akan juga dikupas! Tentu rangkaian tulisan ini adalah ruang untuk berdiskusi, sehingga jika ada pertanyaan, sanggahan, atau koreksi, sila berikan komentar!

Esok hari kita akan membahas sebuah pertanyaan mendasar — apa sebenarnya pentingnya energi untuk Indonesia? Hanya sebuah komoditas dan sumber devisa negarakah? Apa dampak langsung energi pada ekonomi secara makro?

 


Hari pertama dari #15HariCeritaEnergi

Informasi lebih lanjut mengenai sektor energi Indonesia dapat diakses melalui www.esdm.go.id!

 

Leave a Reply